Sultan-Qaboos-Grand-Mosque-in-Muscat-Oman

Kamis, 24 Oktober 2013

Kebahagiaan dalam Keterasingan



Kalau bercerita tentang keterasingan seorang muslim yang mengemban amanah ‘ubudiyah penghambaan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, baik yang hidup pada masa awal muncul Islam maupun yang ditakdirkan pada masa akhir zaman seperti pada zaman sekarang ini, merupakan kumpulan cerita orang yang tidak lepas dirundung duka dan dilanda kesedihan. Mereka tidak ubahnya sebagai seorang musafir yang singgah di perkampungan, tidak ada saudara untuk tempat mengadu, tidak ada kerabat untuk diminta bantuannya, tidak ada teman yang diajak tertawa dan bercengkrama. Akan tetapi keterasingan tersebut tidak membawanya kepada pesimis, malahan membuat mereka optimis. Mereka tetap bisa bekerja, beramal semaksimal mungkin untuk mendapatkan keberuntungan sebagai bekal yang akan mereka bawa ke kampung halamannya.

1.      Siapakah orang-orang yang dianggap asing tersebut ?
 
         Untuk mengenal siapakah orang-orang yang dianggap asing atau ghuraba', maka mari kita lihat dan kita resapi hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kita rasakan seolah-olah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hidup ditengah-tengah kita, diantara hadits tersebut adalah:

·          Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhya Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing." (HR. Muslim/2/152 no. 232-(145)

·         Dalam riwayat Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: dikatakan kepadanya; siapakah mereka wahai Rasulullah ? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Orang-orang yang baik, ketika manusia telah rusak". (HR. Abu Amr Ad-Dani di Sunan Waridah fil fitan 1/25, Al-Ajurri di Ghuraba' hal. 21, silahkan lihat Silsilah Shahihah 3/267)

          Hadits-hadits tentang ini sangat banyak, bahkan dalam tinjauan para para ulama lebih 20 orang sahabat yang meriwayatkan hadits tentang Ghuraba' ini.

2.      Para salaf berbicara tentang keterasingan
 
A.      Sunnatullah yang sedang berlaku
 
Dalam keterangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia, Islam akan mengalami dua kali keterasingan; keterasingan pertama yaitu keterasingan awal Islam dan keterasingan yang kedua adalah keterasingan akhir Islam.

Hadits keterasingan diatas memiliki makna yang sama dengan hadits Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu tentang pertanyaan beliau kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam perihal kebaikan dan keburukan;

Dari Idris Al-Khaulani bahwa dia mendengar Huzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: "Orang-orang banyak bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sebaliknya aku bertanya tentang keburukan karena aku takut jatuh kedalamnya, aku berkata: Wahai Rasulullah, kami dahulunya dalam jahiliyah dan keburukan, lalu datanglah kepada kami kebaikan ini (Islam), apakah setelah kebaikan ini ada keburukan ? "Benar" jawab Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku berkata; Apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan ? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Benar, akan tetapi berkabut". Aku berkata : "Apa kabutnya ? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Adanya satu kelompok mengambil petunjuk selain dari petunjukku, engkau mengenal mereka dan engkau ingkari perbuatannya. Aku berkata; Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan ? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Benar, adanya juru dakwah di pintu-pintu Jahannam, siapa yang memenuhi panggilan mereka, akan mereka masukkan kedalamnya". (HR. Bukhori 6/615 no. 3606, Muslim 12/236 no. 1847)

Hadits ini cukup panjang kita tidak merinci semuanya. Dan kalau kita cermati hadits Huzaifah Radhiyallahu ‘anhu diatas bahwa kebaikan dan keburukan saling bergantian. Masa jahiliyah, lalu masa kebaikan, lalu masa keburukan, lalu masa kebaikan yang telah berdebu, lalu keburukan total.

Dari hadits tersebut jelaslah bagi kita bahwa seorang muslim dalam kehidupan ini akan diuji oleh Allah Tabâraka wa Ta'âla diuji dengan kebaikan dan keburukan. Dengan adanya kebaikan dan keburukan, maka ini sebagai konsekuensi dari penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, apakah mereka dapat bersabar dan istiqomah diatas perintah-Nya atau sebaliknya mereka kufur dan ingkar terhadap syariatnya. Allah Subhânahu wa Ta'âla berfirman: "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya diatas air untuk menguji kalian siapa yang terbaik amalnya". (QS. Hud: 7)

Ujian dan cobaan sebagai filter keimanan seseorang, Allah Tabâraka wa Ta'âla telah menerangkan harus ada ujian dan cobaan agar kekuatan iman dapat dipastikan, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Apakah manusia menyangka mereka dibiarkan saja untuk berkata "kami telah beriman". Padahal mereka belum diuji. Kami telah uji orang-orang sebelum mereka, supaya Allah mengetahui siapa yang benar keimanannya dan siapa yang dusta dalam keimanannya". (QS. al-Ankabut: 2-3)

          B.      Orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti menggenggam bara api

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam mengibaratkan orang yang berpegang teguh dengan kebenaran pada zaman keterasingan dengan seorang yang sedang memegang bara, ketika bara dipegang terasa panas yang sangat, hingga mengelupaskan kulit dan mengeluarkan air mata karena pedihnya, akan tetapi ia harus tetap digenggam, sebab ia adalah perintah dan ia adalah satu-satunya jalan keselamatan. Jika ia dilepas, berarti lepaslah agama. Bara itu tidak boleh digenggam dengan tanggung-tanggung. Dapat dipastikan akan menambah lama penderitaan dan kesengsaraan, akan tetapi ia harus digenggam erat, agar mati panasnya bara, yang tersisa hanyalah kebahagian menyongsong ganjaran dan pahala.

Untuk memperkuat dan menambah keyakinan kita, mari kita lihat hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara tentang ini: "Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara". (HR.Tirmidzi 4/526 no. 2260 berkata Tirmidzi bahwa hadits ini dari jalan gharib. dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 2/645 no. 957)

Dan bukan berarti jika ia bara yang panas, ia boleh dilepaskan dan ditinggalkan, karena dengan melepaskan dan meninggalkannya berarti akan menanggalkan semua atribut penyerahan dirinya kepada Allah Tabâraka wa Ta'âla, ia telah menanggalkan pakaian Islam dari dirinya dan memutuskan tali kebahagiaan dan gantungan jiwanya, karena bara itu tidak lain adalah Islam.

Adapun sikap seorang mukmin dalam keterasingan ini adalah selalu istiqomah dalam melaksanakan perintah Allah Subhânahu wa Ta'âla dan Rasul-Nya.

 3.      Kenapa Islam awal munculnya dianggap asing dan di akhir zaman juga dianggap asing ?

         Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah, yaitu sebelum kedatangan Islam keadaan masyarakat bumi pada masa itu dalam gelap gulita tidak ada cahaya hidayah dan lentera kebenaran, masyarakat tidak lagi beragama sesuai dengan agama yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan pada setiap Rasul yang diutus pada setiap negeri, sedangkan masyarakat pada waktu itu dikenal dengan masyarakat jahiliyah, karena mereka tidak lagi menjalankan nilai-nilai kebaikan yang diturunkan oleh Allah Tabâraka wa Ta'âla melalui agama yang hanif, lurus sebagaimana lurusnya awal penciptaan fitrah pada diri manusia. Terjadinya kegelapan dan kebodohan, karena manusia telah meninggalkan perintah Dzat Yang Maha Kuasa, melanggar perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya, ketika itulah mereka disebut masyarakat bodoh atau jahiliyah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, semua manusia musuhnya, tidak ada yang beriman kecuali orang-orang tertentu dari kalangan bawah dan segelintir dari orang yang memiliki fitrah yang bersih dan akal yang lurus.dari segi aqidah orang-orang jahiliyah menyembah berhala, patung, syirik dan kekufuran, akhlaq mereka yang rusak, suka berperang, balas dendam dan sombong.

Oleh karena itu, kebenaran begitu terasing sebelum Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, sehingga seseorang yang berakal sehat dan mempunyai fitrah yang lurus tidak bisa menjalankan agama yang benar, karena kentalnya maksiyat dan menyebarnya kebatilan.

Dengan kondisi seperti itu maka kedatangan Islam dianggap asing, karena Islam meluruskan jalan hidup manusia yang melenceng. Kaum muslimin terasing dengan peribadatannya kepada Allah Subhânahu wa Ta'âla diantara peribadatan orang-orang kebanyakan kepada patung dan berhala. Kaum muslimin terasing dengan bimbingan wahyu dari Allah Tabâraka wa Ta'âla terhadap akal dan hawa nafsunya ditengah masyarakat yang memperturutkan akal dan hawa nafsunya tanpa bimbingan wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla.

      Keterasingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

Setelah tiga tahun berlalu umur dakwah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam orang-orang yang masuk Islam datang dalam keadaan terasing. Ini yang dirasakan langsung oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai manusia pertama yang merasa asing, bagaimana tidak !!! Seorang anak bangsawan Quraisy dikenal dengan semua sifat baik dan budi pekertinya yang halus, ketika Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit dengan dakwah Islam, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dimusuhi. Kekaguman berubah menjadi kebencian, kawan berubah menjadi lawan, kedekatan berubah menjadi pengusiran, kata-kata baik selalu ditafsirkan buruk, cobaan demi cobaan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam hadang walaupun nyawa tantangannya. Tidak ada yang memberikan pembelaan kecuali segelintir orang. Akan tetapi pembela, penolong yang paling hebat, yaitu Allah selalu memperhatikannya, sampai kemenangan dan kebahagian diraih oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya Ridhwânullahi ‘alaihim ajma'in.

                Keterasingan Para Shahabat Ridhwânullahi ‘alaihim ajma'in

Keterasingan yang dirasakan oleh shahabat, dapat kita lihat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, dia diusir dari Makkah, ketika beliau sampai di Barkul Ghamad (daerah di Yaman) bertemu dengan Ibnu Dighnah, penguasa wilayah tersebut, ia berkata: "Kemana engkau hendak pergi, wahai Abu Bakar ? Beliau berkata: "Kaumku telah mengusirku, maka aku hendak berkelana beribadah kepada Robbku". Ibnu Dighnah berkata: "Orang sepertimu tidak boleh keluar dan tidak boleh diusir, engkau orang yang memperkerjakan orang yang mengganggur, menjalin silaturrahim, menanggung orang-orang yang lemah, menerima tamu dan membantu orang yang mendapat kesusahan, aku adalah tetanggamu, pulanglah dan ibadatilah Robbmu di kampungmu", lalu orang musyrik itu, menjadi penjaminnya untuk masuk Makkah.

Kita lihat pula Bilal ibnu Robah Radhiyallahu ‘anhu disiksa oleh majikannya, dijemur dibawah terik matahari di padang pasir yang berbatu, Syuhaib Radhiyallahu ‘anhu dibakar kepalanya dengan besi panas. Semua ini penyebabnya karena dianggap asing oleh masyarakat yang telah rusak aqidahnya, akhlaknya dan mu'amalahnya.
 
               Keterasingan Pemeluk Islam ditengah Para Pemeluk Agama Lain dari Orang-orang Kafir

               Keterasingan Ahlus Sunnah Waljama'ah diantara Kalangan Umat Islam
             
                  Disebabkan karena Ahlussunah Waljama'ah merupakan golongan yang selamat dari 73 golongan yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk neraka, satu yang selamat yaitu mereka yang berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
 
               Keterasingan Para Penegak Kebenaran dan Orang yang Melantangkan Suaranya dalam Menyeru kepada Tauhid
 
4.      Sifat-sifat Ghuraba' (Orang-orang Asing)

Orang-orang ghuraba' pada masa akhir zaman, dialah muslim sejati dengan sifat-sifat idealnya, sebagaimana mereka adalah muslim sebenarnya pada masa awal Islam.

Dari semua kumpulan hadits tentang mereka maka sifat yang paling menonjol pada mereka adalah sebagai berikut:

·         Mereka adalah orang-orang yang shalih dan ta'at pada perintah agama. Engkau lihat mereka bergerak dan berjalan atau diam, dia selalu meletakkan kakinya diatas aturan Allah Subhânahu wa Ta'âla, perhatiannya tidak lepas kepada tempat suruhan yang akan dia kerjakan dan tempat larangan yang harus dia tinggalkan. Begitu besar perhatiannya kepada hal yang demikian sehingga mendorongnya untuk menuntut ilmu syariat, karena tidak akan mungkin mengetahui hal itu tanpa memiliki bashirah yang tajam dan ilmu yang mendalam tentang al-Qur'ân dan Sunnah.

·       Keshalihannya menuntutnya untuk mengenal Allah Tabâraka wa Ta'âla, Ia sangat mengenal tempat-tempat kemurkaan-Nya sebagaimana ia mengenal tempat-tempat keridhaan-Nya. Ia tahu apa yang harus ia perbuat ketika ia tergelincir dalam melakukan kesalahan dan maksiyat, bagaimana ia kembali dapat merebut kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya, bahkan melalui kesalahan tersebut ia mampu untuk mendekatkan diri kepada-Nya lebih dekat lagi daripada sebelum melakukan kesalahan dan maksiyat.
 
Demikianlah diantara sifat-sifat orang yang ghuraba' (asing) semoga Allah menunjuki hati kita menuju jalan-Nya dan menjauhi kita dari jalan yang menyimpang dan sesat.


*Disadur dari buku Temui Aku di Telaga oleh Ustadz Armen Halim Naro.

*http://ibnurodjat.multiply.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar