Sultan-Qaboos-Grand-Mosque-in-Muscat-Oman

Minggu, 20 Februari 2011

Ungkapan Sederhana Untuk ISTRI Tercinta

13 01 2009

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannva yanq bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak perna menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika disaat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar.
Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,”kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik. ” Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepadaAllah Taala bagairnana kita menunaikan amanah dari-Nya kah kita mengabaikannya sehingga gurat-guratan dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik bentuk istri, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Rewrited from M. Faudzil Adhim by Mas Adhi

Ayah....Maafkan aku...

Dear All,
Buat semua yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua.... Ingatlah....semarah apapun, janganlah kita bertindak berlebihan... Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tahu apa2.
Ini ada kisah nyata yg berjudul "Ayah, kembalikan tangan Dita........."
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.

Sumber : http://adhisaputra.wordpress.com/2007/11/14/ayah-maafkan-aku/

Selasa, 01 Februari 2011

Da’i Sabun Mandi

Dai sabun mandi. Begitulah julukan yang dilekatkan pada Ustadz Fadzlan Garamatan, dai asal Fakfak, Papua. Pasalnya, saat berdakwah di kalangan suku-suku di Papua yang belum beragama, ia selalu membawa sabun mandi.
Kita memulai pengajaran Islam dari bab thaharah dulu, tentang kebersihan dan hakikatnya,” ujar Fadzlan. Itulah sebabnya ia selalu membawa ratusan kardus sabun mandi saat berdakwah ke pedalaman Papua dan membagikannya secara gratis.
Kepada masyarakat pedalaman Papua yang mentradisikan mandi dengan lemak babi, ia menjelaskan mengapa kebersihan penting dalam Islam. Sabun adalah alat yang bisa membantu badan menjadi bersih, bukan lemak babi. Benda yang semula asing bagi mereka lambat laun menggeser lemak babi sebagai pelengkap mandi. ”Bagi mereka mandi dengan air, lalu pakai sabun, dan dibilas lagi dengan air sangat nyaman dan wangi,” jelasnya.
Fadzlan memulai dakwahnya di Wamena dan kalangan suku Asmat. Idenya tentang membersihkan tubuh diapreasiasi dengan luar biasa oleh masyarakat setempat. “Bahkan, ada seorang kepala suku yang merasakan segarnya mandi dengan sabun wangi enggan untuk membilas tubuhnya,” ujarnya mengenang. Sang kepala suku akhirnya mengajak sekitar 500-an warganya untuk memeluk Islam.
Dakwah seperti ini yang dia kembangkan di Papua; pergi ke pedalamanan, mengajarkan kebersihan, dialog dengan bahasa yang mereka pahami, dan membuka informasi tentang Islam. Ia menularkan metode dakwahnya kepada sekitar 492 aktivis dakwah di Papua yang tergabung dalam Al Fatih Kaffah Nusantara, organisasi yang didirikannya. Dengan dakwah yang sudah dijalankannya selama 19 tahun ini, banyak orang yang masuk Islam di sana. Tercatat 45 persen warga asli memeluk agama Islam. Jika ditambah dengan para pendatang, maka kini pemeluk Islam di pulau paling timur Indonesia itu sebanyak 65 persen dari seluruh populasi.
Selama menggarap dakwah di Papua, banyak suka duka dialami para dai AFKN. Misalnya saja, mereka pernah diusir dari suatu kampung karena dituduh merusak adat. Namun pendekatan yang mereka lakukan kemudian umumnya membuahkan hasil. Biasanya, bila dakwah sudah diterima di kampung itu, warga berbondong-bondong menyatakan keislamannya. Pengalaman paling berkesan adalah saat rombongan dai AFKN mengislamkan warga satu kampung di Teluk Wondama, Papua Barat. Usai shalat Jumat, setelah menyucikan tubuh bersama-sama, prosesi pengislaman dilakukan dengan pembacaan syahadat bersama. “Saat itu cuaca yang tadinya terik berubah menjadi teduh, alam menjadi sunyi, seperti kesenyapan malam,” ujar Fadzlan, yang mengaku tak henti bertasbih bila mengingat kejadian itu.

Memberdayakan masyarakat
Selain berdakwah, AFKN juga merambah sektor lain; peningkatan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat. Tekad Fadzlan dan para dai AFKN untuk meningkatkan mutu pendidikan diwujudkan dengan mengirimkan lulusan sekolah dasar untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa dengan beasiswa penuh. “Tahun lalu kita mengirimkan 120 anak untuk menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren di Jawa,” ujarnya.
Sampai saat ini, sudah lebih dari 1.500 anak yang dibantu pendidikannya oleh AFKN. “Mereka dibiayai sampai 13 tahun masa pendidikan,” tambah Fadzlan. Saat kembali ke Papua, mereka telah meraih gelar sarjana dan siap untuk mengabdi pada masyarakat dan umat.
Dakwahnya tidak berhenti, namun berlanjut dengan program pemberdayaan ekonomi. Bekerja sama dengan Baitul Maal Mu’amalat (BMM), kaum Muslim Papua diajak membuat produk seperti buah merah, ikan asin, dan manisan pala bermerek BMM AFKN. Pasarannya sudah masuk ke berbagai supermarket di Jakarta, bahkan juga diekspor ke India.
Kini AFKN sudah memiliki perwakilan hampir di semua kabupaten di tiga provinsi di Papua. Dakwah mereka selain menyebarkan Islam juga memantapkan akidah para mualaf dan kaum Muslimin di Papua.
Salah satu program yang tengah digenjot adalah program satu Alquran untuk satu keluarga. Program besarnya selaras dengan program Pemda Fakfak, yaitu 5 M dan 1 A yakni: Memiliki- Membaca- Mempelajari- Memahami- Menghayati dan Amalkan kitab suci. “Kami masih mengharapkan bantuan kitab suci Alquran dalam jumlah banyak,” ujarnya. Anda berminat membantu?
sumber : Republika

Senin, 24 Januari 2011

Serakah

Kamis, 04 Februari 2010

"Seandainya anak cucu Adam (manusia) mendapatkan dua lembah yang berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati). Dan Allah akan mengampuni orang yang bertaubat." (HR Ahmad).

"Barangsiapa yang menjadikan (motivasi) dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kefakiran di hadapan matanya, dan akan menjadikan kacau segala urusannya. Sedangkan dunia (yang dicarinya sungguh-sungguh) tak ada yang datang menghampirinya melainkan sesuai dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah atas dirinya; pada sore dan siang harinya dia selalu dalam kefakiran." (HR. Tirmidzi).

Keserakahan manusia tidak akan pernah hilang kecuali setelah kematian menjemputnya. Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Karena ketidakpuasannya itu, segala cara pun ditempuh.
Serakah adalah salah satu dari penyakit hati. Mereka selalu menginginkan lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh itu dibenarkan oleh syariah atau tidak. Tak berpikir apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Yang penting, apa yang menjadi kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi. Bila tidak segera dibersihkan, penyakit sosial ini dapat menimbulkan malapetaka. Orang yang serakah, akan membuat mata hati dan pendengarannya menjadi tuli.

"Cintamu terhadap sesuatu membuat buta dan tuli." (HR Ahmad).
Serakah juga menjadi pintu masuknya setan. Bila masuk dalam hati orang yang serakah, setan akan menghiasinya dengan sifat-sifat tercela lainnya. Orang yang serakah itu selalu menganggap baik apa yang dilakukannya, meski kebanyakan orang melihatnya sebagai suatu keburukan.
Serakah, ternyata tidak sebatas pada harta benda semata-mata. Ada orang yang serakah kepada jabatan. Orang yang serakah kepada jabatan, akan berusaha mendapatkan apa yang menjadi incarannya dengan segala cara. Tak pernah berpikir apakah cara yang ditempuh baik atau buruk.
Orang yang serakah tidak akan pernah puas terhadap semua kekayaannya. Saat ia memiliki satu rumah misalnya, ia menginginkan dua atau tiga rumah. Setelah memiliki dua atau tiga rumah, ia ingin memiliki empat atau lima rumah. Begitu seterusnya. Yang akan menghentikannya hanyalah kematian atau ia bertobat kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Seandainya seorang anak Adam telah memiliki dua lembah harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiganya. Dan tak akan merasa puas perutnya, melainkan dengan dimasukkan ke dalam tanah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Al-Qarni, orang yang serakah telah buta mata hatinya dalam memandang hakikat yang harus dicari. Seharusnya, setiap muslim menyadari bahwa sesuatu yang harus dicarinya dengan sungguh-sungguh adalah ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah. Karena, jatah rezeki untuk kelangsungan hidupnya di dunia sudah disediakan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman,
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS. Huud: 6).

Harta yang merupakan kelebihan dan keperluan utamanya, sebenarnya bukan rezeki yang berhak ia gunakan. Kelebihan harta itu mesti digunakan semata-mata untuk beribadah. Rasulullah SAW dalam hadits di atas menerangkan, jika seorang hamba Allah menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, maka sebanyak apapun harta yang dipunyainya selalu dirasakannya kurang. Ia selalu merasa miskin dan ingin memiliki harta melebihi apa yang dianugerahkan Allah kepada orang lain. Siang dan malam yang dipikirkannya hanyalah harta. Ia terus memutar otak, membuat perencanaan, atau mengatur strategi agar usahanya sukses sehingga kekayaannya bisa terus bertambah, bertambah, dan bertambah. Baginya, ungkapan "waktu adalah uang" merupakan motto hidup.
Orang yang serakah menurut Uwes al-Qarni dalam 60 Penyakit Hati, dapat terjadi pada seseorang sebagai dampak dari penyakit hubbud-dunya. Sangatlah logis bila seseorang tidak mampu lagi mengendalikan dorongan duniawi yang dicintainya. Seluruh waktunya akan dihabiskan, tenaga dan pikirannya akan dikuras untuk semata-mata mencari harta dunia. Dalam agendanya, tidak tertulis waktu untuk mengadukan segala keluhan batinnya kepada Allah. Tak terbetik dalam hatinya untuk meniatkan usahanya semata-mata demi ibadah mencari keridhaan-Nya. Semua program hidupnya penuh dengan program-program duniawi yang profit oriented, sehingga tak sekejap pun berpaling dari ukuran materi.
Orang tertular penyakit serakah meskipun keadaannya berkecukupan secara lahiriyah, sebenarnya dia selalu kekurangan. Bahkan, dapat disebut miskin. Dia tidak pernah menemukan penyelesaian dari segala problem hidup yang diatasinya. Dia akan senantiasa dibingungkan dan dipusingkan dengan tumpukan problema yang tak ada habisnya. Itu semuanya, karena ketidakpuasan nafsunya atas semua rezeki yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Sebelum ia menyadari bahwa dunia penuh permainan dan tipu daya, atau sebelum kematian menemuinya, orang yang serakah tidak akan pernah berhenti dari kondisi ini, meskipun secara fisik dia tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak Adam akan mengalami masa tua (pikun), kecuali yang dua; kerakusan terhadap harta benda, dan kerakusan terhadap (panjang) umur." (HR. Bukhari Muslim).
Oleh karena itu dalam berbisnis janganlah serakah dengan melakukan apa saja untuk mengejar keuntungan semata atau mengejar kekayaan semata tanpa harus mempedulikan orang-orang sekitar. Berbisnislah dengan cara yang baik dan benar. Tidak melanggar kode etik yang ada. Dalam berbisnis jangan hanya melihat keuntungan dan kepentingan pribadi akan tetapi juga melihat kepada kemaslahatan bagi orang banyak.

Agar Tidak Serakah

Setiap muslim seharusnya menjauhi sifat serakah. Jangan biarkan diri kita diperbudak nafsu, karena nafsu terhadap dunia akan mendorong kita berbuat maksiat kepada Allah. Tentu saja, kita tidak dilarang untuk memiliki harta. Yang penting, kita dapat menggunakannya sebagai sarana berdakwah dan berjuang di jalan Allah.
Agar kita tidak dikendalikan nafsu serakah terhadap dunia, maka sebaiknya kita memiliki sifat zuhud, wara' (hati-hati), qanaah (merasa puas atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita), pandai mengatur waktu untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan pandai mensyukuri nikmat yang ada. Selain itu, kita juga harus meluruskan seluruh niat dalam berusaha, yaitu semata-mata dalam rangka mengabdi kepada Allah guna mendapatkan ridhaNya. Allah berfirman
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim: 7)
Ayat ini menjelaskan kepada kita agar kita bersyukur dan tidak tamak dengan harta, karena jika kita bersyukur maka Allah akan menambah rezekinya kepada kita, sedangkan jika kita mengingkari nikmatnya maka kita akan mendapatkan azabnya.
Keserakahan Bisa Membawa Sengsara
Keserakahan juga bisa membawa kita pada kesengsaraan. Misalnya seseorang dalam berbisnis ingin mendapatkan harta dengan mudah tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya. Dia melakukan apapun untuk kepentingan dirinya sendiri, dia mengejar target tanpa melihat kendala-kendala yang bisa menghancurkan usahanya dengan resiko yang besar, lebih mengutamakan usahanya mendapat untung yang besar dan cepat maju dengan tidak mempedulikan saingannya ataupun rekan-rekan bisnisnya. Jika dia berhasil dia akan mendapatkan keuntungan akan tetapi dia juga kan mendapatkan kerugian yaitu dibenci oleh orang-orang sekitar. Jika dia rugi atau gagal maka dia akan mendapatkan kerugian dari usahanya dan juga akan dibenci oleh saingannya dan akan kehilangan rekan-rekannya atau mitra bisnisnya. Itulah resiko bagi orang yang berbuat serakah, yang hanya ingin mengejar kenikmatan dunia dan tidak mempedulikan kebaikan diakhirat kelak.

HIKMAH

Dari uraian diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa dalam berbisnis hendaknya kita menghindari sifat serakah karena yang demikian akan menghancurkan kita. Dampak dari serakah itu banyak sekali diantaranya adalah Penyakit hati, merugikan orang lain, menimbulkan malapetaka, mata hati dan pendengarannya tuli, pintu masuknya setan dan keserakahan membawa kita kepada kesengsaraan. Akan tetapi milikilah sifat-sifat yang baik yaitu sifat zuhud, wara' (hati-hati), qanaah (merasa puas atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita), pandai mengatur waktu untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan pandai mensyukuri nikmat yang ada. Selain itu, kita juga harus meluruskan seluruh niat dalam berusaha, yaitu semata-mata dalam rangka mengabdi kepada Allah guna mendapatkan ridha-Nya.

Diposkan oleh Forum Komunikasi CV.Cinta Umiku di 12.29

Nafsu Serakah

Posted on Agustus 1, 2007 by Helsusandra Syam| 2 Komentar

Ada suatu kisah lama.
Seekor anjing baru saja mendapatkan sepotong daging. Dengan langkah cepat ia menggigitnya dan membawa pergi.
Dalam perjalanan pulang sang anjing menyeberangi suatu sungai kecil. Ketika melewati jembatan kayu yang menghubungkan dengan seberang, sang anjing menoleh ke bawah. Tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang tengah menggigit daging juga.
Entah karena tergiur atau terganggu, sang anjing pun menggonggong keras. Ketika ia menggerakkan moncongnya tiba-tiba daging yang berada dalam mulutnya terlepas, jatuh ke air dan tak muncul lagi….
Air tersibak dan bayangan pun pecah. Gambar anjing lain yang terlihat menggigit daging lenyap, dan daging yang di mulut sang anjing pertama pun hilang.
Dengan langkah lesu, sang anjing melangkah dengan mulut hampa.
Sama dengan kisah ini, banyak orang terkadang tergiur dengan peluang baru lalu tanpa sadar atau secara sadar melepaskan rezeki yang sudah ada.
Mengharap hujan turun dari langit, air di tempayan ditumpahkan.
This entry was posted in Inspirasi-Motivasi, Sastra. Bookmark the permalink.

Minggu, 23 Januari 2011

Kisah Anak Yang Mengajari Bapaknya

oleh Untaian Hikmah pada 25 November 2010 jam 12:05
(“Da’i Cilik”, Penerbit: Darul Falah, Jakarta, Indonesia)

Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.
Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.
Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:
“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.
Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”
Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.
Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.
Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.
Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.
Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.
Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):
”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)
Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.
Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setelah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”
Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.
Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”
Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”
Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.
Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)
Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.
Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”
Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”
Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.
Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.
Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”
Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”
Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.
Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”
-***-

Kamis, 20 Januari 2011

Nasehat untuk Anak (Pelajaran bagi Ayah)

Jul 31st, 2009 | By ibnuthohir | Category: Qur'an

Al-Qur’an yang demikian compact merupakan karunia Allah yang memudahkan kita untuk menghafalnya. Meski ringkas, namun ia mencakup seluruh permasalahan kehidupan sesuai fungsinya sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia. Imam Syafi’i membutuhkan 4 hingga 5 jilid buku (yaitu karya fenomenal beliau: Al-Umm) untuk membahas perkara fiqh secara komprehensif. Bayangkan, jika Al-Qur’an setebal itu tentu akan merepotkan. Hebatnya lagi, hanya dengan jumlah halaman yang relatif sedikit, isinya sudah meliputi pokok keimanan, ibadah, syariat, muamalah, berita masa datang, dan kisah masa lalu.

Diantara hal yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah kisah kehidupan para nabi serta orang-orang shaleh dari umat terdahulu. Dari hanya sekitar 600 halaman redaksi Al-Qur’an, Allah ‘menyempatkan’ untuk membahas kisah. Itu berarti pada kisah tersebut terdapat pelajaran, keteladanan, dan manfaat yang dapat kita petik.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. [QS Yusuf (12) : 111]

Satu cerita yang diabadikan Al-Qur’an adalah tentang Luqman. Kisah dimana Luqman memberikan nasehat kepada anaknya. Sangat wajar bagi seorang ayah untuk memberi nasehat. Dan ini adalah suatu hal yang tulus karena tiada lain tujuan seorang ayah melainkan agar anaknya mendapat kebaikan. Sebuah gambaran pendidikan anak yang diajarkan oleh Al-Qur’an.
Ada beberapa versi mengenai identitas Luqman. Akan tetapi yang terpenting adalah bahwa beliau merupakan seorang yang taat, shaleh, dan bijaksana. Dialah orang yang telah dikaruniai Allah dengan berbagai keutamaan berupa kecerdasan, kedalaman pemahaman terhadap islam, sifat pendiam dan khusyuk, sarat makna dan hikmah dalam berkata, serta penuh kasih sayang. Inilah potret sosok ayah yang dicontohkan dalam Al-Qur’an.

Pertama-tama Luqman menyeru anaknya untuk tidak menyekutukan Allah. Tidak ada dosa yang lebih besar dan lebih buruk ketimbang dosa syirik.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. [QS Luqman (31) : 13]

Ayat ini menjadi isyarat bagi para ayah (atau semua pendidik) untuk menanamkan aqidah sejak dini di atas segala pengajaran. Hendaknya penanaman prinsip-prinsip iman dan Islam menjadi prioritas pendidikan anak.

Kemudian Allah memerintahkan untuk memenuhi hak orang tua dengan berbakti dan taat kepada mereka.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. [QS Luqman (31) : 14]

Perhatikan, setelah menyeru agar tidak mempersekutukan Allah, berikutnya adalah perintah untuk berbakti kepada orang tua. Ini jelas menunjukkan pentingnya hal tersebut.

Berulang kali di berbagai kesempatan, Al-Qur’an memberikan tuntunan untuk berbuat baik terhadap orang tua. Sebaliknya, jarang ditemui perintah untuk berbuat baik terhadap anak. Artinya, kasih sayang orang tua kepada anak adalah hal sudah pasti dan ada secara alamiah. Tidak perlu sengaja dibuktikan pun sudah terbukti dengan sendirinya. Maka tidak wajar apabila anak (yang dewasa) terus menuntut perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Justru semakin dewasa, seorang harus semakin ganti membuktikan cinta kepada orang tua. Di banyak kasus, sang anak durhaka kepada orang tua. Oleh karena itu Islam sangat mewanti-wanti agar menjadi orang yang berbakti kepada orang tua.

Lihatlah juga betapa adilnya ajaran agama. Peran ibu sangat ditekankan dengan mendeskripsikan jasa-jasanya. Bukan berarti peran ayah tidak penting. Namun biasanya, orang secara spontan akan langsung memahami peran ayah yang memang tampak jelas. Misalnya nasab jelas dihubungkan pada ayah. Perkara siapa yang menafkahi keluarga pun lumrahnya me-refer pada kepala keluarga. Belum lagi jika ditanya siapa yang bertanggung jawab terhadap tindak-tanduk anak, secara gamblang ayahnya akan ditunjuk.

Peran ibu yang kadang dilupakan saat orang dewasa, terus diungkit oleh Islam. Ayat 14 surat Luqman di atas menjadi salah satu contoh. Di sana digambarkan perjuangan sang ibu dalam mengandung dan menyusui. Seumur hidup, tidak akan pernah bisa seorang membalas setimpal jasa ibunya bahkan untuk sehembus nafas pun. Dialah orang yang paling berhak mendapat perlakuan baik dari kita.

Kemudian ayat ini menghimbau untuk bersyukur kepada pengarunia ni`mat yang primer, yaitu Allah, yang telah menganugerahkan segala limpahan-Nya serta rasa kasih sayang di hati makhluq-Nya. Dilanjutkan dengan anjuran berterima kasih kepada ibu dan bapak selaku pemberi ni`mat sekunder untuk kita. Seperti itulah urutan kewajiban. Pertama sekali kepada Allah, lalu setelah itu kepada orang tua.

Ayat ditutup dengan penerangan bahwa hakikat syukur itu adalah sebab segalanya akan kembali kepada Allah. Nanti di akhirat modal syukur saat di dunia akan berperan menyelamatkan kita. Tidak lepas dari itu, syukur akan menjadi penyebab bertambahnya ni`mat di dunia pula.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS Luqman (31) : 15]

Disini berlaku kaidah,

Tidak ada ketaatan pada makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq (Allah).

Bakti tidak boleh mengalahkan aqidah. Meski begitu, hubungan manusiawi dan kekeluargaan harus tetap dipelihara. Teruslah menapaki jalan keimanan, jalan para nabi, shiddiqien, syuhada, dan orang-orang shaleh. Karena segala apa yang dikerjakan akan memperoleh balasan.

(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [QS Luqman (31) : 16]

Nasihat dilanjutkan dengan penegasan tentang kekuasaan Allah yang mutlak dan adanya hari pembalasan. Perbuatan seseorang baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan, sekecil apapun, pasti akan Allah balas. Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pandangan Allah. Hal ini akan mengantar kepada perhatian atas segala tindakan kita. Oleh karena semuanya akan dipertanggungjawabkan. Diharapkan kita senantiasa mengejar niat/pikiran/perkataan/perbuatan baik dan menjaga dari yang buruk.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [QS Luqman (31) : 17]

Coba amati urutan pendidikan yang digariskan ini. Pertama mengajarkan tauhid dan melarang syirik. Kemudian tentang hari akhirat dimana segala perbuatan akan diberi balasan. Pengajaran yang menyadarkan akan pengawasan Allah dan meletakkan harapan serta takut pada pertanggungjawaban dihadapan-Nya yang diselimuti kepercayaan akan keadilan-Nya. Diantaranya disisipkan redaksi dari Allah berupa perintah berbakti kepada orang tua.

Barulah selanjutnya dipaparkan kewajiban shalat sebagai ibadah fisik yang paling penting. Pendidik (ayah, ibu, atau guru) dituntut untuk mengajarkan shalat (begitu juga ibadah-ibadah ritual lain) kepada anak didiknya. Rasulullah mencontohkan untuk mengajari anak shalat sebelum si anak berumur 7 tahun. Setelah anak berumur 7 tahun mulailah ia diperintahkan untuk mengerjakan shalat. Lalu setelah umur 10 tahun mulai diberlakukan sanksi (hukuman) jika anak meninggalkan shalat.

Yang diajarkan bukan semata ‘melaksanakan’ shalat, tapi ‘mendirikan’ shalat. Artinya melaksanakan dengan sinambung dan memenuhi hak-haknya (benar serta khusyuk) lalu mengaktualisasinya. Sehingga shalat tersebut dapat menjadi penolong dalam urusan serta pencegah dari kekejian dan kemungkaran.

Amar ma`ruf nahi munkar menjadi imbauan berikutnya. Demikian telitinya ungkapan ini. Bukankah untuk melakukan amar ma`ruf seorang dituntut untuk mengerti hal-hal yang ma`ruf (kebaikan)? Juga seorang harus mengetahui perkara-perkara yang munkar (keburukan) agar bisa ber-nahi munkar. Maka maksudnya juga mencakup agar mengajari anak didik tentang segala kebaikan serta menyadarkan tentang segala keburukan.

Sabar adalah kunci penting dari kedua hal di atas. Sabar dalam menjalani ‘beratnya’ ketaatan. Sabar dalam ‘lelahnya’ berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar) dimana rentan muncul ejekan dan perlawanan. Dan sabar dalam menghadapi segala ujian atau musibah yang diterima.

Kesemuanya itu merupakan perkara besar yang menuntut perhatian lebih. Tidak ada yang memperoleh taufiq untuk menjalankannya kecuali orang-orang yang bertekad baja.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [QS Luqman (31) : 18-19]

Perihal akhlaq menutup rangkaian nasehat Luqman. Sombong -yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain- menjadi bahan sorotan. Janganlah seorang bersikap angkuh dan membanggakan diri. Hendaknya ia berlaku tawadhu’, tenang, serta sopan dalam berbicara.

Menjadi terang bagi kita bahwa anak memiliki hak yang harus dipenuhi oleh ayahnya. Sang ayah wajib memberikan nama yang bagus, ‘memilihkan’ ibu yang baik, mengajarkan Al-Qur’an, dan mendidiknya dengan adab.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.. [QS At-Tahrim (66) : 6]

Belajar dari kisah Luqman, dalam mendidik tentulah harus diawali dengan keteladanan. Tutur kata yang baik, bijak, dan indah disertai kecintaan dibutuhkan untuk dapat menguasai akal dan hati anak sehingga ia dapat dengan mudah menerima nasehat. Juga berikan pengajaran diawali dari hal-hal pokok (ushul) kemudian masuk hal-hal cabang (furu’).

Demikian. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari sekelumit kisah yang diabadikan oleh Al-Qur’an tersebut.

Allohu wa Rosuluhu a`lam.